Tips Anak – Anak Kreatif dan Imajinatif

anak kreatif dan imajinatif di zaman penuh Ipad, tablet samsung


Sebelum smartphone dan tablet menjadi booming, sudah dikenal permainan elektronik seperti Playstation dan Wii. Lama sebelumnya, sewaktu saya masih anak-anak, video game yang ada adalah nintendo dan sega. Dulu, tidak semua orang bisa memiliki permainan elektronik, mengingat harganya cukup mahal. Lama kelamaan harganya semakin terjangkau dan permainannya semakin beragam.


Dalam buku The Power of Play (by David Elkind), ditulis
“Children’s – their inborn disposition for learning, curiosity, imagination, and fantasy – is being silenced in the high-tech, commercialized world we have created. Toys, about which children once spun elaborate personal fables, now engender little more than habits of passive consumerism. The spontaneous pickup games that once filled neighborhoods have largely been replaced by organized team sports and computer games.”

Terjemahan kasarnya:
“Anak-anak – sifat bawaan mereka untuk belajar, keingintahuan, imajinasi, dan fantasi – saat ini tenggelam dalam dunia teknologi dan komersialisasi yang kita ciptakan. Mainan (maksudnya bukan mainan elektronik), yang dulunya dipakai untuk berimajinasi kreatif, sekarang hanya sebatas pola konsumerisme pasif. Permainan-permainan penuh spontanitas yang dulu sering dijumpai di lingkungan , sekarang digantikan oleh klub olahraga dan permainan elektronik.”

Para ahli percaya bahwa tenggelamnya imajinasi dan kreatifitas anak, dapat mengakibatkan efek negatif. Imajinasi dan kreatifitas anak akan berpengaruh terhadap tingkat perkembangan yang lebih tinggi : matematika, ilmu pengetahuan, dan juga berpengaruh pada pengembangan fisik, sosial dan emosional anak. Kurangnya permainan aktif dan kreatif (semacam permainan beregu), dan digantikan oleh permainan yang lebih sedikit bergerak, dapat mengakibatkan kurangnya latihan fisik pada anak. Selain itu, studi menunjukkan bahwa anak-anak yang banyak melakukan permainan kreatif (misalnya merakit permainan sendiri, atau yang disebut Do It Yourself) cenderung lebih berkembang dalam hal pemikiran dan pengembangan emosi, dibandingkan anak-anak yang menggunakan permainan elektronik (yang tinggal menggunakan permainan yang sudah dibuat orang lain).



The Power of Play (by David Elkind) –

“Creativity and imagination are like muscles; if you don’t use them, you lose them,”
Kreativitas dan Imajinasi seperti otot. Jika tidak digunakan, akan hilang”


Jadi apa yang bisa dilakukan orang dewasa untuk membantu anak kembali ke masa kreatif dan imajinatif?

Sediakan lingkungan yang aman
Banyak orang tua sekarang takut untuk membiarkan anaknya tanpa pengawasan. Hal ini dapat dimaklumi, apalagi di kota-kota besar yang rawan kejahatan terhadap anak. Akan tetapi sebisa mungkin bawalah anak ke ruang terbuka dan biarkan bermain-main sendiri walaupun masih dalam jangkauan pengawasan. Misalnya di halaman belakang, di taman umum, atau kebun binatang. Jangan hanya duduk di dalam rumah dan di depan komputer

Sediakan permainan imajinatif
Misalnya blok Lego, malam/clay/tanah liat, blok bangunan, atau mainan masak-masakan. Biarkan anak bermain drama boneka, membaca buku bergambar dan membuat cerita sendiri, atau hal-hal semacam itu.
Cupido Creative menyediakan permainan-permainan dan aktifitas semacam itu.

Tanya “Kenapa?”
Jika ada aktifitas anak, seringlah tanyakan “kenapa” dan biarkan dia menjawab dengan imajinasinya. Misalnya jika anak bermain boneka anjing, dan dia berimajinasi bahwa anjingnya terbang. Itu suatu hal yang bagus, tanyakanlah “Kenapa kok anjingnya bisa terbang, kan tidak punya sayap?”. Biarkan dia berkreasi dengan jawabannya, dan jangan mendikte. Ada waktunya dimana imajinasi berdiri sendiri tanpa dicampuri fakta pengetahuan. Lagipula bukankah pesawat terbang muncul karena ada imajinasi Wright Bersaudara untuk terbang?

Hindari terlalu mengatur anak
Hidup anak sekarang dipenuhi kursus pelajaran, kursus bahasa asing, kursus tari, dan kursus-kursus lain. Tidak ada salahnya dengan banyak kursus untuk mempersiapkan anak, tapi jangan paksa anak mengambil kursus di setiap harinya (bahkan hari Sabtu-Minggu) sehingga mereka kehilangan waktu berkualitas. Karena alasan tidak ada waktu, maka di sela-sela kursus pun anak diberikan permainan elektronik yang mudah didapat dan instan. Jika memang harus ada kursus, setidaknya luangkan waktu dua-tiga hari untuk anak bebas bermain dan bersosialisasi. Jangan merasa “bersalah” jika banyak memberikan waktu bebas ke anak, sejauh waktu itu dimanfaatkan dengan baik.

Sumber : sebagian isi berasal dari psychologytoday
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s